21 April Untuk Kartini, Mengenang Kemudian Menulislah

Emansipasi. Mendengar kata itu mengingatkan saya pada sesosok perempuan priyayi kelahiran Jepara 21 April 1879, Raden Ajeng Kartini. Lewat surat-surat yang ia kirimkan pada teman-temannya di Eropa, Kartini seakan memperkarakan nasibnya terlahir sebagai perempuan Jawa yang pada masanya mengalami diskriminasi sosial. Dalam surat-surat tersebut Kartini juga mengungkapkan cita-citanya untuk menghapus diskriminasi yang ada serta keinginan memajukan kehidupan Read the rest of this entry »

Cukup Siti Nurbaya

Menikah. Perempuan seumuran saya memang seharusnya sudah sibuk memikirkan hal itu, menikah. Bukan saya tidak memikirkannya, hanya saja banyak pertimbangan ‘tidak mudah’ yang tiba-tiba muncul saat saya dihadapkan pada fase kehidupan satu itu. Sempat membuat saya depresi berat. Membuat saya sampai pada kesimpulan bahwa ternyata saya belum siap. Pun hingga saat saya menuliskan ini.

Read the rest of this entry »

Saya adalah Perempuan Banyuwangi yang Sedang Bermimpi

Saya orang Banyuwangi. Asli atau tidaknya saya kurang begitu paham dikarenakan ketakpahaman saya pada klasifikasi kesukuan di Banyuwangi yang berbhineka namun membaur seperti es campur berikut kriteria-kriteria yang mengidentifikasikan ke-asli-annya. Tapi yang pasti, sejak zaman kakek dari bapak saya, keluarga saya sudah berdomisili di Bayuwangi. Setelah membabat hutan tentu saja. Banyuwangi pun menjadi tempat dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Itulah kenapa saya menyebut diri saya orang Banyuwangi. Read the rest of this entry »

–A CONFESSION–

Oleh : Faricha Hasan

‘sori, ak mw ngku, nih.. gk enk bgt klo kelamaan bo’ong..
Ehm, yg bnr tuh kmrn ak gk slh krm, tpi emg sngja ak krm n blng slh krim.. cuman mw sngja ngecek aja, tuh bnrn km ato bkn. Eh, trnyt km, trus emg bnrn tau ak.. tp kok, kya gk knal aja. Mkny, kmrn ak jg sok lom knl gtu.. sori.. tpi, yg td, npa d dpn bnyk org? haduh, ak bnrn gk tau, gmn msti blang, malu bgt..’
Read the rest of this entry »

Menjadi Raja Perempuan

Sebagai seorang perempuan, menjadi seseorang yang merdeka dan bebas menentukan pilihannya, itu sudah cukup bagi saya. Tak pernah sedikitpun saya membayangkan memiliki kekuasaan penuh dan berhak perintah sana perintah sini semaunya.

Tapi, bagaimana jika ternyata kita dipilih? Dipilih menjadi seseorang yang mau tidak mau harus menjadi center of power dari sebuah negara?

Read the rest of this entry »

Rumput (2)

Arin patah hati, air matanya menggenang di pelupuk matanya namu ditahannya untuk menyembunyikan segala kerapuhan. Percuma saja, ia tetap telanjang dimata ibunya sekeras apapun berusaha. Ibunya kemudian menghela nafas panjang. Ia beranjak dari tempat duduknya kemudian masuk ke kamarnya. Tidak ada tangisan yang pecah. Tubuh Arin bergetar, begitupun Bapaknya. Dengan tas ditangan dan satu ransel, ia memberanikan kakinya keluar dari rumah itu. Arin memenuhi hatinya dengan harapan dan keyakinan. Senyumnya terkembang saat melihat pria terkasihnya diluar pagar rumahnya. Read the rest of this entry »